Rangkuman Kejadian Sebagai Buntut Demo Massal, Mulai Penangkapan Aktivis Sampai Intimidasi Jurnalis

Belakangan ini situasi negeri kita memang sedang chaos. Hampir seluruh lapisan masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah wilayah, dari mahasiswa, pelajar, sampai masyarakat umum. Mereka kompak menolak disahkannya RKUHP dan sejumlah RUU lain yang bermasalah. Pengendara ojol juga hampir demo ke gedung DPR, tapi rencana itu akhirnya dibatalkan, entah apa alasannya. Yang bikin miris, nggak sedikit aksi yang terjadi malah berujung anarki, sampai menelan banyak korban luka dan beberapa meninggal dunia.

Kali ini Hipwee sudah merangkum peristiwa-peristiwa yang terjadi bertubi-tubi sebagai buntut dari demonstrasi massal di Indonesia. Mari simak bersama supaya bisa jadi pelajaran berharga.

1. Dua orang mahasiswa di Kendari dan satu orang pelajar di Jakarta dilaporkan meninggal dunia saat melakukan unjuk rasa menyuarakan aspirasi yang sama

La Ode Yusuf Kardawi saat masih dirawat via www.tribunnews.com

Warganet berduka setelah dua mahasiswa di Kendari, tewas dalam aksi demonstrasi di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) jurusan Budidaya Perairan, meninggal dengan luka tembak di dada kanan, seperti dikutip Tirto. Demo itu memang berlangsung ricuh. Mahasiswa dan aparat terlibat bentrok, polisi menghujani demonstran dengan gas air mata, meriam air, dan tembakan peluru. Peserta aksi melawan dengan melempari batu.

Selain Randi, La Ode Yusuf Kardawi yang semula kritis juga dikabarkan meninggal dunia. Ia menderita luka di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul. Sementara satu korban lain, Bagus Putra Mahendra, siswa SMA Al Juhad Tanjung Priuk, Jakarta Utara, meninggal ditabrak kontainer saat mengikuti aksi di depan Gedung DPR RI. Polisi membantah kabar yang bilang Bagus kecelakaan saat dikejar aparat, dikutip CNN.

2. Peristiwa lain yang nggak kalah bikin genting adalah perampasan ponsel milik jurnalis Narasi TV oleh aparat. Kabarnya ia juga mendapat kekerasan fisik

Tweet pimred Narasi TV via www.suara.com

Vany Fitria, jurnalis Narasi TV, mendapat perlakuan buruk dari aparat saat meliput demo di bawah Flyover Bendungan Hilir, Jakarta, Rabu (26/9), dikutip Tirto. Saat kondisi sedang rusuh, Vany mengaku merekamnya menggunakan kamera HP. Tapi tiba-tiba ada sejumlah polisi datang menghampiri. Tanpa ba-bi-bu mereka langsung merampas ponsel Vany dan membantingnya. Seorang polisi juga memukul lengan Vany pakai tameng. Padahal Vany sudah memakai kartu pers, tapi seolah kartu itu nggak bisa melindunginya.

Advertisement

Lewat pernyataan resmi yang disampaikan pemimpin redaksinya, Zen RS, Narasi TV mendesak polisi mengembalikan (bukan mengganti) ponsel Vany.

3. Ada juga kabar hoaks mobil ambulans bawa batu dan bensin yang disebarkan sendiri oleh aparat kepolisian lewat akun Twitter @TMCPoldaMetro

Keterangan tertulis yang beredar via www.tarbawia.net

Kamis (26/9) lalu, dilansir dari Kumparan, akun Twitter Polda Metro Jaya mencuitkan informasi telah mengamankan ambulans yang katanya memasok batu dan bensin untuk pendemo. Cuitan itu disertai video yang menyiarkan saat-saat polisi mengepung mobil ambulans dan mengeceknya. Setelah dibuka, tampak sejumlah petugas Dinas Kesehatan di dalamnya, batu atau bensin yang dicari malah tidak ada.

Nggak lama ternyata cuitan itu dihapus oleh admin. Padahal warganet terlanjur melihat video tersebut. Mereka ramai-ramai menagih batu yang katanya diangkut mobil ambulans dengan memviralkan tagar #ManaBatunya di Twitter. Belakangan diketahui kalau ternyata mobil-mobil itu hanya dipakai sembunyi perusuh yang bawa batu, kembang api, hingga bensin.

4. Beredar juga kabar kalau saat pengecekan mobil ambulans itu sejumlah tim medis mengalami kekerasan yang dilakukan Brimob. Tapi setelah dikonfirmasi, PMI membantah kabar tersebut

Kaca mobil ambulans yang dituduh bawa batu via metro.tempo.co

Beredar sebuah keterangan tertulis yang menceritakan kronologis penyerangan tim medis oleh anggota Brimob saat melakukan pengecekan ambulans yang diduga membawa batu untuk pendemo. Di keterangan yang juga ditandatangan Ketua PMI Jakarta Timur itu tertulis kalau tim medis ditarik paksa dari ambulans dan dipukuli, didorong, bahkan sampai ada yang diinjak dan jatuh tersungkur. Keterangan ini dibenarkan Kepala Markas PMI Kota Jakarta Timur E Komalasari, seperti dilansir Republika.

Tapi berbeda dengan pernyataan Pengurus Pusat Ketua Bidang Relawan PMI Muhammad Muas yang justru membantah adanya tindak penganiayaan terhadap tim medis itu, dikutip CNN.

5. Yang terbaru adalah penangkapan dua aktivis Dandhy Laksono dan Ananda Badudu atas tuduhan ujaran kebencian dan penggelontoran dana untuk aksi unjuk rasa

Aktivis yang sempat ditangkap via surabaya.tribunnews.com

Dandhy Laksono, aktivis, jurnalis, sekaligus sutradara Sexy Killers, ditangkap di kediamannya pada Kamis (26/9) dini hari atas tuduhan ujaran kebencian terkait kerusuhan di Wamena. Walau selang beberapa jam ia akhirnya dipulangkan, tapi statusnya masih tersangka. Jumat (27/9) subuhnya, giliran Ananda Badudu yang diamankan polisi. Aktivis, mantan jurnalis Tempo, sekaligus eks Banda Neira ini ditangkap atas tuduhan mentransfer sejumlah uang untuk menyokong kegiatan demo mahasiswa. Diketahui Ananda memang membuka donasi lewat Kitabisa.com untuk kemudian diberikan ke demonstran.

Dari kelima peristiwa di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwasannya negara kita telah darurat hak bersuara, berekspresi, dan berpendapat. Bahkan pers yang selama peliputan di lapangan dilindungi UU Pers, juga nggak lepas dari aksi intimidatif aparat. Duh, semoga semua ini segera membaik ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Sumberhttps://www.hipwee.com/feature/rangkuman-kejadian-buntut-demo-massal/

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply